Thursday, April 12, 2018

Belajar Ilmu dari Petuah Jawa

0 comments

Belajar Ilmu dari Petuah Jawa


Ilmu dalam bahasa Jawa disebut ‘Ngelmu.’ Kalau ditelaah dengan menggunakan Kereta Basa atau Jarwo Dhosok, ‘Ngelmu’ adalah “Angele yen durung ketemu’ atau ‘sulitnya ketika belum mendapatkan.’ 

Salah satu karakteristik ilmu adalah sulit. Sulit bagi orang yang masih baru. Terasa asing dan begitu membingungkan. Namun di sisi lain, ilmu memiliki karakteristik mudah. Mudah bagi yang sudah terbiasa. Terasa gampang bagi yang telah menguasainya. Oleh sebabnya ada pepatah “Orang bisa karena terbiasa.”

Siapapun bisa mempelajari dan menguasai ilmu. Entah cepat atau lambat tegantung dari kemampuan masing-masing. Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam menguasai ilmu. Ada beberapa orang yang mudah. Namun belum tentu bagi yang lain.  

Ilmu yang dimaksud bukan hanya ilmu pengetahuan dalam pendidikan formal. Ilmu dalam arti sebuah pemahaman tentang hakikat kehidupan yang fungsinya bukan semata-mata untuk pengetahuan, tetapi juga bagaimana membuat diri kita jauh dari sifat-sifat buruk.

‘Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese dur angkara.’ Ini adalah pertikan dari sebuah Tembang Pucung yang berarti ilmu itu dicapai dengan usaha, dimulai dengan kemauan, artinya kemauan yang membangun kesentosaan, budi yang kokoh menakhlukkan nafsu angkara.

Dari petikan ‘Ngelmu iku kalakone kanthi laku’ kita bisa belajar bahwa untuk mendapatkan ilmu diperlukan sebuah usaha. Dalam bahasa Jawa yang sering kita dengar adalah ‘Tirakat.’ Dalam ilmu kejawen, untuk mendapatkan suatu ilmu dibutuhkan sebuah tirakat yang isinya dapat bermacam-macam, seperti melakukan puasa tertentu dan praktik meditasi. 

Faktor lain yang mendukung adalah ‘Lekase lawan kas’ atau ‘dimulai dengan kemauan yang kuat.’ Menjalankan sebuah tirakat tanpa didasari sebuah kemauan yang kuat, biasanya akan putus di tengah jalan. Maka kemauan ini menjadi penguat untuk mengokohkan tekad dalam berusaha. 

Perlu dicatat, kemauan yang dimaksud adalah kemauan yang membangun kesentosaan atau ‘tegese kas nyantosani’. Artinya tidak membuat penderitaan namun juga tidak membuat kesenangan. Ini adalah interpretrasi dari Jalan Tengah yang menghindari pemuasan nafsu dan penyiksaan diri. Kemauan harus berdasar pada tekad yang kuat, bukan karena nekad. 

“Fungsi dari semua ini pada akhirnya adalah untuk menakhlukkan nafsu angkara atau ‘setya budya pangekese dur angkara.’ Kebengisan, ketamakan, kebiadaban, kekejaman, atau kelobaan diharapkan dapat disingkirkan. Makanya kita semua harusnya mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah, dan tamak (Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara).

No comments:

Post a Comment