Tuesday, March 5, 2019

Perbuatan Menentukan Mulia atau Tidaknya Seseorang

0 comments
Agama Buddha melihat mulia dan tidaknya seseorang bukan dari keturunan, agama, atau penampilan. Mulia dan tidaknya seseorang ditentukan oleh perbuatan dan kualitas-kualitas baik yang seseorang miliki. Meskipun seseorang terlahir di keluarga yang baik, tapi kalau ia tidak memiliki perbuatan, ucapan dan pikiran yang baik, ia tak pantas disebut orang baik. Meskipun seseorang beragama tertentu, tapi perbuatannya tidak mencerminkan orang beradab, selalu merugikan orang lain, ia tak pantas disebut orang bermoral. Meskipun seseorang berpenampilan agamis atau berpenampilan rapi, kalau ia tidak memiliki moral yang baik, selalu diliputi dengan pikiran-pikiran yang jahat, ia tak pantas disebut orang yang mulia. 

Keluarga tak menjamin kualitas seseorang. Karena dalam kenyataannya, ada orang yang terlahir di keluarga baik, namun sifat-sifat baik dari keluarga itu tidak diikuti oleh anaknya. Ada banyak kasus di mana anak-anak nakal berasal dari keluarga yang baik-baik. Mungkin karena pengaruh pergaulan, cara mendidik anak yang salah, atau sekolah, anak melakukan hal-hal yang tidak baik. Maka dari itu, keturunan tak bisa dijadikan acuan untuk menilai kualitas seseorang. 

Tujuan dari sebuah agama adalah memberikan tuntunan agar umatnya menjadi lebih baik di jalan yang benar. Namun tak bisa dipungkiri, justru kejahatan-kejahatan sering juga dilakukan oleh mereka yang mengaku beragama. Bahkan agama dibawa-bawa untuk melancarkan tindakan-tindakan yang tidak baik dan merugikan. Makanya kualitas seseorang tidak bisa dilihat dari agamanya.
Pakaian memang memberikan kesan atau cerminan dari seseorang. Ia yang berpakaian rapi memberikan kesan positif bagi yang melihatnya. Sementara berpakaian tidak rapi memberikan kesan yang negatif. Namun pakaian tidak bisa dijadikan tolak ukur kualitas seseorang. Karena pakaian hanya bisa menutupi hal-hal yang kelihatan saja, namun tidak bisa menghilangkan sifat-sifat buruk seseorang. Berpakaian rapi atau memakai atribut-atribut keagamaan tidak menjamin seseorang itu bersih. Dari luar memang terlihat rapi, tapi di dalam pikirannya terdapat pikiran-pikiran jahat yang disembunyikan. Bahkan ada banyak sekali kejahatan dilakukan dengan sembunyi di balik pakaian rapi atau atribut-atribut keagamaan. Korupsi adalah salah satu contoh nyata. Pelaku-pelakunya adalah orang-orang berpakain rapi. Makanya penampilan tak menjamin kualitas seseorang.

Buddha melihat bahwa perbuatanlah yang menentukan kualitas seseorang. Apabila seseorang sering berbuat baik, terkendali dalam perbuatan, ucapan dan pikiran, maka ia disebut orang baik. Sebaliknya, orang disebut tidak baik, jahat, atau tidak berguna, karena perbuatannya pula. Apabila seseorang sering melakukan kejahatan, selalu berucap kata-kata yang tidak baik, selalu diliputi pikiran-pikiran jahat, ia pantas disebut sebagai orang yang jahat. Jadi, buruk dan tidaknya seseorang bisa dilihat dari bagaimana perbuatannya, ucapannya, dan pikirannya. 

Di India di zaman Buddha masih hidup ada sebuah sistem kasta, di mana masyarakat dikelompokkan menjadi empat kasta, yang antara lain Brahmana, Ksatriya, Vaisya, dan Sudra. Pembagian kasta  ini ditentukan oleh garis keturunan. Orang-orang berkasta Brahmana adalah orang-orang yang tinggi dan dimuliakan sementara orang-orang berkasta Sudra adalah orang-orang bawahan yang sering diperlakukan tidak adil di masyarakat. Orang-orang berkasta Brahmana mengklaim sebagai orang-orang yang mulia dan patut dihormati oleh orang-orang berkasta di bawahnya. Mereka adalah para penasehat, guru, pendeta agama. Mereka selalu mendapat hak istimewa dan dianggap mulia, karena para Brahmana dilahirkan melalui mulut Brahma. Sementara orang-orang berkasta Sudra selalu mendapat perlakuan yang tidak adil. Mereka harus menjadi budak dari tiga kasta di atasnya. Kebebasan mereka dalam melakukan praktik keagamaan pun juga dilarang. 

Buddha menolak diskriminasi kasta yang tidak berdasar ini. Menurut Buddha, kelahiran tidak bisa dijadikan tolak ukur baik dan buruknya seseorang. Faktanya, orang-orang berkasta apapun, entah itu Brahmana, Ksatriya, Vaisya, maupun Sudra, bisa saja melakukan keburukan dan kebaikan. Meskipun ia terlahir di keluarga Brahmana, kalau ia melakukan kejahatan-kejahatan, ia bukanlah orang yang mulia. Meskipun seseorang terlahir di keluarga Sudra, kalau ia memiliki moral yang baik, senantiasa berbuat baik, ia pantas disebut sebagai orang yang mulia. Makanya, mulia dan tidaknya seseorang tidak bisa dinilai dari garis keturunan, melainkan dari perbuatannya. Buddha pernah berkata bahwa karena perbuatan seseorang disebut brahmana, dan karena perbuatan pula seseorang disebut bukan-brahmana (Na jaccā brāhmaṇo hoti, na jaccā hoti abrāhmaṇo; Kammunā brāhmaṇo hoti, kammunā hoti abrāhmaṇo. M. II. 122). Kata brahmana di sini mengacu pada orang yang mulia dan pantas mendapat pengormatan. Jadi mulia dan tidaknya seseorang, hanya bisa ditentukan dari perbuatannya. Darimanapun seseorang dilahirkan, apapun agamanya, dan bagaimanapun pakaian yang seseorang kenakan, itu semua bukanlah kriteria untuk menentukan mulia dan tidaknya seseorang. Hanya dengan perbuatan, seseorang dinilai apakah mulia atau tidak. 

No comments:

Post a Comment