Monday, March 11, 2019

Pewaris Perbuatannya Sendiri

0 comments
Agama Buddha memandang bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik hal-hal baik maupun hal-hal buruk, merupakan sebab musabab yang kompleks. Artinya bahwa segala sesuatu muncul bukan karena kebetulan, melain karena sebab-sebab yang mengondisikannya terjadi. Salah satu faktor yang menyebabkannya adalah kamma atau karma. Karma di sini adalah perbuatan, baik yang dilakukan di kehidupan ini maupun di kehidupan-kehidupan lampau.

Karma masa lampu juga mengondisikan terjadinya perbedaan-perbedaan di antara manusia. Kita melihat bahwa ada manusia yang berusia pendek dan berusia panjang, sakit-sakitan dan sehat, buruk rupa dan menawan, lemah dan kuat, miskin dan kaya, terlahir di keluarga rendah dan di keluarga terhormat, bodoh dan pandai. Perbedaan-perbedaan ini semua bukanlah suatu kebetulan, hadiah, ataupun takdir yang sudah digariskan. Buddha melihat bahwa perbedaan-perbedaan ini terjadi karena perbuatan masing-masing individu yang pernah dilakukan di kehidupan-kehidupan lampaunya (M. III. 203). Tidak ada takdir dalam hal ini. Semuanya adalah konsekuensi dari karmanya masing-masing. 

Setiap orang mewarisi setiap perbuatan yang pernah mereka lakukan. Buddha berkata bahwa semua makhluk adalah pemilik perbuatan mereka sendiri (sabbe sattā kammassakā), pewaris perbuatan mereka sendiri (kammadāyādā), terlahir dari perbuatan mereka sendiri (kammayonī), berkerabat karena perbuatan mereka sendiri (kammabandhū), terlindungi oleh perbuatan mereka sendiri (kammappaṭisaraṇā), perbuatan apapun yang mereka lakukan, baik maupun buruk, mereka akan menjadi pewaris dari perbuatan mereka sendiri (yaṃ kammaṃ karissanti – kalyāṇaṃ vā pāpakaṃ vā – tassa dāyādā bhavissantī’ti. A. III. 74). Perbuatan apapun yang seseorang lakukan, apakah itu perbuatan baik ataupun buruk, ia akan menjadi pewaris dari setiap perbuatan yang ia lakukan (Yaṃ karoti naro kammaṃ, kalyāṇaṃ yadi pāpakaṃ; Tassa tasseva dāyādo, yaṃ yaṃ kammaṃ pakubbatī’’ti. Thag. 144).

Kita semua bertanggung jawab atas perbuatan yang kita perbuat sendiri. Kita akan menerima hasil yang baik dari perbuatan-perbuatan yang baik, dan kita akan menerima hasil yang buruk dari perbuatan-perbuatan yang buruk. Seperti halnya menanam, kita akan memanen sesuai dengan apa yang kita tanam. Buddha berkata bahwa sebagaimana benih yang ditabur, demikian juga buah yang akan dipetiknya (yādisaṃ vapate bījaṃ, tādisaṃ harate phalaṃ). Pelaku kebaikan akan memperoleh kebaikan, dan pelaku kejahatan akan memperoleh keburukan (kalyāṇakārī kalyāṇaṃ pāpakārī ca pāpakaṃ. S. I. 227).  

Pemahaman tentang hukum Karma ini sangat penting, sebab ini akan memberikan manfaat yang sangat luas. Karma tidak selalu tentang perbuatan di kehidupan lampau, perbuatan yang kita lakukan di kehidupan ini juga merupakan Karma. Hasil dari perbuatan yang kita lakukan di kehidupan ini, juga tidak harus berbuah di kehidupan mendatang, tapi bisa berbuah di kehidupan sekarang ini juga. Pemahaman tentang Karma membuat seseorang menjadi mau berusaha dan tidak bergantung pada hal-hal di luar kendalinya. Karena setiap orang adalah pewaris dari perbuatannya masing-masing, maka ia akan berusaha untuk mengendalikan diri dan melakukan perbuatan hanya yang baik dan bermanfaat saja. Memahami hukum Karma adalah dasar untuk menjadi manusia bermoral. Pemahaman ini mendorong seseorang untuk menjadi malu dalam melakukan kejahatan (hiri), dan takut akan akibat perbuatan jahat (ottappa).

No comments:

Post a Comment