Friday, March 29, 2019

Sejarah Penyusunan Tipiṭaka Pāli

0 comments


Pendahuluan
Setelah mencapai penerangan sempurna, Sang Buddha mengajarkan ajarannya kepada banyak orang. Beliau mengawali misinya dengan membabarkan ajarannya kepada lima orang petapa yang merupakan teman seperjuangannya saat melakukan praktik menyiksa diri. Lima orang petapa itulah yang menjadi siswa pertamanya. Seiring berjalannya waktu, pegikutnya semakin bertambah banyak, terdiri dari bhikkhu / bhikkhuni dan upāsaka / upāsika. Selama empat puluh lima tahun, Sang Buddha mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk membabarkan ajarannya. Kitab suci Tipiṭaka Pāli adalah kitab suci agama Buddha yang berisi seluruh ajaran Sang Buddha selama empat puluh lima tahun. Namun yang penting untuk diketahui bahwa Tipiṭaka Pāli belum terbentuk ketika Sang Buddha masih hidup. Penyusunan Tipiṭaka Pāli terjadi setelah Sang Buddha wafat oleh para siswa-siswa agungnya. Persisnya pada Konsili Buddhis pertama, seluruh ajaran Sang Buddha dikelompokkan berdasarkan kategorinya. Artikel ini bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang penyusunan Tipiṭaka Pāli. 

Pembahasan
Tak lama setelah Sang Buddha wafat, muncullah sebuah gagasan untuk mengumpulkan seluruh ajaran yang pernah Sang Buddha ajarkan dan mengulangnya bersama-sama dalam sebuah persamuan agung. Kata-kata tak pantas yang diucapkan Bhikkhu Subhadda ketika Sang Buddha wafat menjadi pemicu utama mengapa persamuan agung atau konsili harus segera diadakan agar hal-hal buruk yang tidak diinginkan tidak berkembang dan merusak Buddhasāsana. Dikisahkan, para bhikkhu yang belum mencapai kesucian terlihat sedih dan menangis karena Sang Buddha telah wafat. Bhikkhu Subhadda menasehati mereka dengan berkata: “Cukup, teman, jangan menangis dan bersedih! Kita sekarang sudah terbebas dari Mahāsamaṇa. Kita dulu tertekan dengan peraturan bahwa ini diijinkan dan ini tidak diijinkan. Sekarang kita bisa melakukan apa yang kita inginkan. Apa yang tidak kita inginkan, tidak akan kita lakukan.” Kata-kata tersebut didengar oleh Bhikkhu Mahākassapa Thera yang kebetulan sedang menempuh perjalanan menuju tempat kremasi jasad Sang Buddha. Kata-kata yang tak pantas tersebut menjadi cambukan bagi Bhikkhu Mahākassapa Thera untuk segera mengadakan konsili. 

Kalau para bhikkhu berpikir bahwa dengan wafatnya Sang Buddha, mereka bisa bebas melakukan sesuatu, ini akan berbahaya bagi kelangsungan Buddhasāsana untuk generasi-generasi berikutnya. Ajaran murni Sang Buddha bisa tercemar oleh pandangan-pandangan salah yang dimiliki para bhikkhu yang tak bisa memhami Dhamma. Oleh karena itu, dengan mengumpulkan seluruh ajaran Sang Buddha dan mengulangnya bersama-sama dapat menguatkan kembali ajaran Sang Buddha. Dengan mengumpulkan seluruh ajaran Sang Buddha, para bhikkhu generasi berikutnya yang tidak pernah bertemu dengan Sang Buddha dan mendengarkan Dhammanya dapat mempelajarinya melalui koleksi yang ada. Ini akan sangat berguna bagi generasi-generasi mendatang untuk mengetahui ajaran Sang Buddha. 

Tiga bulan setelah Sang Buddha wafat, sebuah persamuan agung atau konsili diadakan untuk yang pertama kalinya. Konsili pertama ini didukung oleh Raja Ajatasattu di gua Sattapaṇṇi, Rajagaha. Lima ratus arahant bhikkhu, termasuk bhikkhu Ānanda yang mencapai kearahatan di hari sebelum konsili diadakan, berpartisipasi dalam konsili agung ini. Bhikkhu Mahākassapa Thera berperan sebagai pemimpin konsili ini. Bhikkhu Upāli yang dikenal sebagai bhikkhu yang ahli dalam vinaya ditunjuk untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berkenaan tentang Vinaya. Sementara Bhikkhu Ānanda yang dikenal sebagai Bendaharawan Dhamma atau Dhamma Bhāṇḍāgārika, dalam konsili ini ditunjuk untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berkenaan tentang Dhamma. Dalam konsili ini, seluruh ajaran Sang Buddha yang dikenal sebagai Dhammavinaya, dibahas dan diulang bersama-sama. 

Dalam konsili ini pula, seluruh  ajaran Sang Buddha dikumpulkan dan dikelompokkan berdasarkan kategorinya. Ajaran-ajaran yang berkenaan dengan peraturan-peraturan kehidupan monastik dikelompokkan menjadi sebuah kelompok yang dikenal sebagai Vinaya Piṭaka. Apa yang diulang oleh Bhikkhu Upāli dalam konsili ini menjadi isi dari Vinaya Piṭaka. Kumpulan-kumpulan khotbah Sang Buddha dan para siswa utamanya yang disampaikan dalam berbagai kesempatan dikelompokkan menjadi sebuah kelompok yang disebut sebagai Sutta Piṭaka. Apa yang diulang oleh Bhikkhu Ānanda dalam konsili ini menjadi isi dari Sutta Piṭaka. Khotbah-khotbah Sang Buddha ini masih diklasifikasikan lagi dan dikelompokkan berdasarkan isi khotbahnya. Kumpulan khotbah-khotbah panjang dikelompokkan menjadi satu bagian disebut sebagai Dīgha Nikāya. Kumpulan khotbah-khotbah yang tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek, atau menengah, dikelompokkan menjadi satu bagian yang disebut sebagai Majjhima Nikāya. Kumpulan khotbah-khotbah yang memiliki tema berkaitan disebut sebagai Saṃyutta Nikāya. Kumpulan khotbah-khotbah yang disusun menurut urutan angka, dikelompokkan menjadi satu kelompok yang disebut sebagai Aṅguttara Nikāya. Sementara kumpulan kitab-kitab lainnya disatukan ke dalam Khuddaka Nikāya.

Meskipun di konsili pertama ini secara spesifik tidak diceritakan pengulangan Abhidhamma, kitab komentar berpendapat bahwa Abhidhamma dimasukkan dalam kategori Dhamma. Abhidhamma mātikā atau ringkasan ajaran Abhidhamma menurut kitab komentar, juga dibahas dalam konsili pertama ini. Sebenarnya sungguh sulit untuk membuktikan bahwa Abhidhamma Piṭaka terbentuk dalam konsili ini. Keberadaan Abhidhamma Piṭaka dalam konsili ini sangatlah kontroversial. Pasalnya dalam konsili ini disebutkan hanya Dhamma dan Vinaya yang dibahas. Kita tidak menemukan pembahasan Abhidhamma dalam konsili ini dalam kitab Kanon. Namun Kitab Komentar menyebutkan bahwa Tipiṭaka yang terdiri dari Vinaya, Sutta, dan Abhidhamma Piṭaka terbentuk di konsili ini. Tentu pernyataan ini mendapat banyak penolakan dari para sarjana modern dengan alasan-alasan yang dapat diterima. Para sarjana modern berpendapat bahwa Abhidhamma Piṭaka mulai disusun setelah konsili kedua dan final di konsili ketiga. Secara tradisi, Abhidhamma Piṭaka merupakan kumpulan khotbah-khotbah Sang Buddha berkaitan dengan Abhidhamma atau Ajaran Tinggi. Tujuh buku yang merupakan bagian dari Abhidhamma Piṭaka, menurut kitab komentar, merupakan ajaran Sang Buddha yang disampaikan oleh Sang Buddha sendiri kepada para dewa, termasuk ibunya, di alam surga Tavatimsa. Namun, secara akademik, menurut para sarjana modern, Abhidhamma Piṭaka merupakan kumpulan ajaran-ajaran tinggi yang berdasar pada ajaran Sang Buddha, yang disusun oleh siswa-siswa agung Sang Buddha untuk menjabarkan lebih mendetail poin-poin Dhamma. Abhidhamma Piṭaka menjadi lengkap dengan tujuh buku di konsili ketiga yang terjadi 236 tahun setelah wafatnya Sang Buddha. Kontroversial isu ini tidak akan dibahas disini karena ini membutuhkan penjelasan panjang.

Singkatnya, setelah mengelompokkan Dhammavinaya berdasarkan kategorinya, masing-masing kelompok dipercayakan kepada kelompok bhikkhu yang bertugas menjaga dan menghafalnya baik-baik dalam ingatan. Ada beberapa kelompok bhikkhu yang bertugas untuk menjaga masing-masing kelompok Dhammavinaya tersebut. Mereka disebut sebagai Bhāṇaka atau pengulang. Vinaya Piṭaka ditugaskan kepada Bhikkhu Upāli dan murid-muridnya. Bhikkhu Ānanda dan murid-muridnya bertanggung jawab menjaga Dīgha Nikāya. Karena Bhikkhu Sāriputta sudah wafat ketika masih hidup, maka Majjhima Nikāya dipercayakan kepada murid-muridnya. Bhikkhu Mahākassapa dan murid-muridnya bertanggung jawab menjaga Saṁyutta Nikāya. Bhikkhu Anuruddha dan murid-muridnya bertugas menjaga Aṅguttara Nikāya. Sementara semua bhikkhu memiliki tugas menjaga Khuddaka Nikāya.

Sistem Bhāṇaka ini dianggap sebagai cara efektif untuk menjaga dan mempertahankan ajaran Sang Buddha. Para bhikkhu yang bertanggung jawab akan mengulangnya setiap saat, sehingga keutuhan ajaran dapat terjaga dengan baik. Dan sistem Bhāṇaka ini dilakukan secara turun temurun dari generasi ke generasi hingga akhirnya Tipiṭaka Pāli dituliskan ke dalam bentuk tulisan. Tradisi mengulang dan menghafal kitab bukanlah hal yang aneh di India pada waktu itu. Kitab Veda dikisahkan juga dipertahankan dengan cara dihafalkan dari generasi ke generasi hingga pada akhirnya dituliskan menjadi buku. Agama-agama di India pada waktu itu juga menggunakan metode yang sama untuk menjaga ajarannya masing-masing. Kemampuan menghafal orang-orang pada waktu itu memang sangat berbeda dengan orang-orang zaman sekarang. Maka penghafalan tersebut bukanlah hal yang mustahil di zaman itu.

Di abad ketiga sebelum masehi, di bawah dukungan Raja Asoka, para bhikkhu yang dipimpin oleh Bhikkhu Mogaliputtatissa Thera mengelar konsili agung yang ketiga. Di akhir konsili ini, Bhikkhu Mogaliputtatissa Thera menyusun sebuah buku yang dinamakan sebagai Kathāvatthuppakaraṇa, yang akhirnya dimasukkan ke dalam Abhidhamma Piṭaka. Setelah konsili ini, Tipiṭaka Pāli dianggap sudah final dan lengkap. Kemudian Raja Asoka mengutus para bhikkhu misionaris Dhamma untuk menyebarkan agama Buddha berserta kitab sucinya ke berbagai negara. Salah satunya adalah Sri Lanka, yang dipimpin oleh Bhikkhu Mahinda Thera. Agama Buddha dan kitabnya yang kita miliki saat ini adalah bukti keberhasilan misi ini, karena Tipiṭaka Pāli yang kita miliki saat ini bersumber dari Tipiṭaka Pāli yang dituliskan untuk yang pertama kalinya sepanjang sejarah di Sri Lanka oleh bhikkhu-bhikkhu Sri Lanka di abad pertama setelah masehi.

Kesimpulan
Penyusunan kitab suci agama Buddha terjadi setelah Sang Buddha wafat. Dalam konsili pertama yang diadakan tiga bulan setelah wafatnya Sang Buddha, seluruh ajaran Buddha dikelompokkan berdasarkan kategorinya. Kitab suci Tipiṭaka Pāli yang kita miliki saat ini adalah kumpulan ajaran Buddha dan para siswa utamanya. Keutuhan Tipiṭaka Pāli terjaga secara turun temurun melalui sistem hafalan. Para bhikkhu-bhikkhu terpelajar membentuk kelompok-kelompok, yang mana setiap kelompok memiliki tugas untuk menjaga keutuhan Tipiṭaka Pāli. Sistem hafalan ini berlangsung berabad-abad hingga pada akhirnya kitab Tipiṭaka Pāli dituliskan untuk yang pertama kalinya di Sri Lanka.

Referensi:
Adikaram. E. W. 2009. Early History of Buddhism in Ceylon. Nedimala: Buddhist Cultural Centre.
Hazra, Kanai Lal. 2014. Pāli Language and Literature. New Delhi: D.K. Printworld. 
Medhācitto, Tri Saputra. 2019. Konsili Buddhis Menurut Tradisi Theravāda. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production. 
Sujato, Bhikkhu dan Brahmali, Bhikkhu. 2014. The Authenticity of the Early Buddhist Texts. Kandy: Buddhist Publication Society. 
Chaṭṭha Saṅgāyana Tipiṭaka 4.0. Vipassana Research Institute.


No comments:

Post a Comment