Thursday, September 26, 2019

Membersihkan Pikiran

0 comments

Pikiran merupakan pelopor dari segala perbuatan. Sebelum seseorang berucap atau bertindak, pikiran telah terlebih dahulu mempertimbangkan apa yang akan seseorang ucapkan atau apa yang akan seseorang perbuat. Pikiran mempengaruhi hasil dari ucapan atau tindakan yang seseorang perbuat. Pikiran yang bersih mendorong seseorang untuk berucap atau bertindak yang baik. Sebaliknya, pikiran yang kotor mendorong seseorang untuk berucap atau bertindak yang buruk. Ibarat sumber mata air yang jernih, maka air yang mengalir pun juga menjadi jernih. Sebaliknya, sumber air yang kotor akan mengalirkan air yang kotor pula.

Buddha menyadari pentingnya kerja pikiran. Dari tiga jenis perbuatan – pikiran, ucapan, dan jasmani - Buddha mengakui perbuatan melalui pikiran adalah yang terkuat (M. I. 373). Dalam Dhammapada, syair pertama dan kedua, Buddha mengatakan bahwa pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu (manopubbaṅgamā dhammā), pikiran adalah pemimpin (manoseṭṭhā), dan pikiran adalah pembentuk (manomayā). Perbuatan atau ucapan yang seseorang lakukan pada dasarnya bersumber dari pikirannya sendiri. Kebahagiaan dan penderitaan adalah manifestasi dari kerja pikiran. Dalam hal ini Buddha mengatakan, apabila seseorang berucap atau berbuat dengan didasari oleh pikiran yang kotor, maka penderitaan akan mengikutinya. Bagaikan roda kereta yang mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya (Manasā ce paduṭṭhena, bhāsati vā karoti vā; Tato naṃ dukkhamanveti, cakkaṃva vahato padaṃ. Dhp. 1). Apabila seseorang berucap atau berbuat dengan didasari oleh pikiran yang bersih, maka kebahagiaan akan mengikutinya bagaikan bayangan yang tidak meninggalkan bendanya (Manasā ce pasannena, bhāsati vā karoti vā; Tato naṃ sukhamanveti, chāyāva anapāyinī. Dhp. 2).

Perbuatan-perbuatan buruk yang diakibatkan karena pikiran-pikiran kotor dapat menuntun seseorang pada penderitaan. Pikiran yang dipenuhi dengan kebencian dan amarah, iri hati dan dengki, mendorong seseorang untuk berucap kasar dan berperilaku agresif. Sebagai akibatnya, seseorang harus menanggung penderitaan. Pikiran yang penuh dengan kebencian menjauhkan seseorang dari kedamaian. Maka tidak akan ada kebahagiaan di saat seseorang terbakar oleh api kebencian. Sebaliknya, ketika pikiran seseorang bersih, dipenuhi dengan cinta kasih, welas asih, dan kebijaksanaan, maka ia akan terdorong untuk berucap dan berperilaku yang baik. Pikiran yang bersih ini menjauhkan seseorang dari pengaruh-pengaruh negatif. Oleh karena itu, ketika seseorang senantiasa berusaha untuk membersihkan pikirannya, ia akan senantiasa hidup bahagia. Dengan pikiran yang bersih, membuat diri sendiri bahagia dan tidak merugikan orang-orang disekitarnya.

Agama Buddha manaruh perhatian penuh pada nilai-nilai spiritual. Buddha tidak hanya menasehati pengikutnya untuk menghindari kejahatan dan memperbanyak kebaikan, tetapi juga mendorong mereka untuk membersihkan pikiran masing-masing. Hal ini dibuktikan dalam syair Dhammapada bahwa menghindari kejahatan (Sabbapāpassa akaraṇaṃ), memperbanyak kebaikan (Kusalassa upasampadā) dan membersihkan pikiran (Sacittapariyodapanaṃ), ini adalah ajaran dari para Buddha (Etaṃ buddhāna sāsanaṃ. Dhp. 183).

Yang dimaksud dengan membersihkan pikiran adalah melatih meditasi. Latihan meditasi ini merupakan cara untuk membersihkan kotoran-kotoran batin, seperti keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Meditasi bukan hanya untuk menenangkan batin dari pikiran yang semrawut. Meditasi adalah latihan untuk mengikis kotoran-kotoran batin secara perlahan. Tidak heran, meditasi sangat dianjurkan disamping mengendalikan perilaku dan ucapan.

No comments:

Post a Comment